Berikut ini adalah kutipan dari artikel dari saudara gempur:
“Saya tak butuh demokrasi,
Saya tak butuh monarki,
Saya tidak butuh Otokrasi atau yang lainnya,
Yang saya butuhkan bisa makan kenyang, bisa bersenggama tanpa masalah, bisa sembahyang tanpa todongan dan bla bla bla…”
Saat ini banyak masyarakat yang menjerit dan mengeluh dengan semakin mahal dan langkanya beberapa kebutuhan dapur. Mulai dari minyak tanah, minyak goreng, tahu, tempe, dll. Bahkan kebutuhan bahan baker pun ikut-ikutan mahal.
Yah, inilah yang terjadi pada rakyat di Indonesia ini. Di beberapa propinsi, di pedalaman desa orang-orang berbondong dan rela antri demi mendapat setetes minyak tanah. Mungkin ini adalah dampak dari sosialisasi peralihan dari minyak tanah menjadi gas elpiji.
Masyarakat banyak yang tidak mengerti bagaimana menggunakan gas elpiji. Setelah mereka menerima kompor dan perangkat lainnya, mereka menggeletakkan di rumahnya. Lalu, mereka masih menggunakan kompor berbahan bakar minyak tanah. Itulah sebabnya, kenapa minyak tanah masih diperebutkan oleh masyarakat.
Kelangkaan BBM ini tidak hanya terjadi sekali tapi bahkan berkali-kali. Di propinsi Bali, hampir semua SPBU mengalami kelangkaan bensin / premium. Sampai kapan kelangkaan ini terus terjadi? Pemerintah dengan berbagai cara telah berupaya untuk mengantisipasi hal tersebut. Mulai dengan rencana smart card, program insentif dan disinsentif, dll.
Sangat ironi sekali sebuah Negara yang katanya Negara kaya, kaya sumber daya, dan kaya hasil tambang. Ternyata tidak mampu memenuhi kebutuhan dapur dari rakyatnya.













ridu
10 Mar 08
8:18 pm
karena yang namanya subsidi itu sudah tidak dinikmati oleh rakyat kecil juga, tapi si dasi melengkung juga menikmatinya..
det
11 Mar 08
5:12 pm
pemerintah dan masyarakat sama-sama memiliki tanggung jawab
Edi Psw
18 Mar 08
2:16 pm
Kelanggaan BBM terjadi berkaitan dengan program konversi dari pemerintah. Penyebabnya tidak lain karena pasokan minyak tanah ditarik dari agen sehingga minyak tanah menjadi langka, padahal kompor dari pemerintah itu belum datang. Mestinya, kompor datang dulu baru minyak tanah ditarik. Btw, untung saya sudah memakai blue gaz.
Anas
19 Mar 08
8:25 am
@ ridu: Oleh karena itu du, biar gak dimanfaatin ama orang berdasi dan berpunya, kata “pak press” minyak tanah yang bersubsidi akan di kurangi secara bertahap. Akibatnya, harga minyak tanah mahal, sembako juga mahal…
@ det: bener..
@ edi psw: wah, itu pak masalahnya, kenapa kok bisa ada keterlambatan.. Apakah ada penyelewengan?